Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Desember 2017

ONANI POLITIK MAHASISWA

Oleh : Chanrasusilo
Menristek BEM UMPAR

Momentum pemilukada di beberapa wilayah di sebagaian besar wilayah indonesia sudah semakin dekat saja, pesta demokrasi yang tentu saja akan menarik perhatian banyak orang untuk menyaksikan dan tentu ikut memeriahkan pesta para dewa dewa politik ini. Pertarungan para calon mungkin belum benar-benar dimulai karena ini masi pada fase persiapan semestinya, tapi atmosfer hura-huranya sudah semakin terasa saja di sana-sini ,bahkan di pelosok-pelosok yang jaringan telepon genggam saja jijik mendekat kesana tapi para politikus tak ragu untuk menembusnya demi kemenangan di perang nantinya . Tentu saja persiapan adalah sesuatu yang penting sebelum bertarung apa lagi ini soal pertarungan para dewa langit berebut nafas para budak manusia kelas jelata.
Siapa sih yang tidak mau menjadi Kepala Daerah hari ini yang sudah jelas lebih sejahtera dengan fasilitas serta tunjangan yang cukup memadai belum lagi soal sikat dan sikut sedikit dibadingkan kepala daerah dimasa lalu yang  hanya bermodal iklhas dan mendapat caci maki lebih banyak dari pada apresiasi atas kinerjanya. Kita mungkin sudah sama-sama tau  kalau negara kita sedang kencang-kencangnya melakukan pembangunan infrastruktur demi mengejar negara-negara maju yang infrastrukturnya sudah  memadai sedemikian rupa, dan saya yakin kita juga sama-sama paham soal bagaimna praktik sunat menyunnat anggaran yang sudah fardu ain hukumnya dalam proses pembangunan. Diantara sederetan orang yang namanya mencuat kepermukaan yang katanya punya niat menjadi kepala daerah di beberapa tempat munkin saja ada yang membawa kepentingan untuk memperbuncit perutnya sendiri dengan topeng kesejahtraan rakyat katanya, maka kita sudah harus berhati hati memilah-memilah dan memilih pada akhirnya.
Kaum intelektual muda yang menempu pendidikan di Perguruan Tinggi yang lebih akrab ditelinga kita dengan istilah mahasiswa, tentunya punya kemampuan analisa yang lebih hebat dari pada masyarakat yang  lebih akrab dengan cangkul dari pada soal  analisis wacana-wacana sosial yang berkembang di sekitarnya sendiri . Maka sudah suatu  keharusan bagi mahasiswa yang katanya lebih berilmu untuk kemudian melakukan gerakan pencerahan pada masyarakat untuk lebih peka dan lebih mengenal bagaimana proses pesta demokrasi dan proses perpolitikan yang sehat, serta bagaimana sebenarnya pembangunan yang semestinya menyejahtrakan rakyat,taNpa terlibat dalam balada kepentingan para calon dan dengan tetap bersih dari politik praktis.
 Sayangnya semua tak sejalan dengan harapan, yang ada adalah mahasiswa hari ini justru sudah ikut tercemari dengan peoses politik praktis bahkan cenderung pragmatis, tak sedikit kita jumpai mahasiswa yang sudah jeas-jelas menyatakan sikap  bergabung dengan parpol yang ada, paling sering adalah jadi tim pemenangan dari salah satu calon yang ada . Mungkin untuk mahasiswa garis kadaluarsa bergabung dengan parpol atau terlibat dalam pemenangan calon itu bisa dianggap hal biasa mugkin itu sebagai pengobat jenuh dari proses peramuan skripsi yang belum menuai kata Acc juga atau itu hanya soal memperbaiki jejaring untuk persiapan  sebelum sarjana dan  banyak alasan aneh lain yang bisa di gunakan untuk mengafirmasinya. Parahnya adalah mahasiswa yang baru seumur jagung yang proses kaderisasi di organisai kemahasiswaannya saja belum ia lalui sampai khatam tapi sudah kebelet untuk ikut dalam pesta langit perpolitikan. Dengan kemampuan analisis yang belum benar-benar mapan bahkan kerangka berpikirnya saja belum siap untuk menikmati politik praktis yang pada ujungnya akan justru meMbawa para mahasiswa dalam pragmatisme tanpa batas. Sungguh miris karena kasus ini sudah menjamur dan merata di semua kalangan mahasiswa  di smua pelosok negri ini , seakan mahasiswa berorganisasi hanya untuk terlibat dalam kanca pepolitikan yang tengah terjadi.
Banyak yang menjadikan alasan keterlibatannya dalam politik saat masi menyandang gelar mahasiswa hanya karena soal mempersiaapkan masa depannya lalu harus terlibat dengan smua itu. Mungkin sekilas ini adalah satu alasan yang logis di terima tapi benarkah dengan begitu cepatnya masuk dalam parpol atau  minimal jadi tim pemenangan calon itu adalah satu langkah tepat untuk mempersiapkan masa depan?.  Bukan kah menanam bibit yang belum semestinya  di tanam pun itu satu kesalahan  sudah dapat di pastikana bibit itu tak akan tumbuh apa lagi mau di panen, mahasiswa yamg semestinya masih sibuk dengan perbaikan kualitas diri justru sudah mulai di sibukkan dengan sesuatu yang sebenarnya belum waktu.

Kampus adalah miniatur negara, maka ketika mahasiswa mau belajar soal perpolitikan maka tempat belajar sebenarnya adalah di sistem perpolitikan mahasiswa dalam kampus atau dalam organisasi kemahasiswaan yang memang jauh lebih kecil skalanya dan memamg di sanalah tempat mahasiswa benar-benar mempersiapkan dirinya untuk masa depannya, bukannya malah menjadi pelacur idealisme dengan menikmati onani politik pratis yang pragmatis. Politik memang perlu untuk menjaga kita tetap waspada ditengah gempuran kepentingan. Dan mahasiswa diharamkan untuk buta terhadap politik karena menurut salah satu penayir Jerman Bertolt Bracth bahwa Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.Yang perlu diingat juga bahwa jangan juga menjadi tenggelam dan hanyut dalam pragmatisme politik yang akan membuat nalar kritis kita menjadi tumpul.

Rabu, 15 Agustus 2012

PAREPARE KOTA SEJUTA BALIHO DAN SPANDUK


Tak terasa momentum politik kemarin  yang telah menyisakan berbagai fenomena tawa , luka dan berbagai  kejadian aneh nan membekas dalam sejarah yang di agung agungkan sebagai pesta rakyat  namun hakikinya adalah pesta para elit politik yang berorientasi terhadap kekuasaan dan jabatan,  kini momentum perebutan tahta kekuasaan  kembali  hadir dalam tempo dekat ini.
Momentum politik yang katanya pesta rakyat ini benar benar berimplikasi terhadap berbagai stabilitas ekonomi, hukum dan pendidikan di kota ini(parepare-red). Parepare sebagai kota transit dan sentral di wilayah ajatappareng  tentunya mendapat perhatian khusus dalam momentum politik ini.
 Hal ini di tandai dgn beragam atribut atribut parpol maupun individu yg siap untuk mengambil peran dalam momentum yang katanya pesta rakyat. Warung warung kopi dan kafe menjadi tempat hangat tuk mendengar informasi informasi politik baik fakta maupun yang hanya sebatas opini namun yang paling mencolok adalah dengan munculnya baliho dan spanduk  dengan berbagai ukuran dan gambar yang berbeda, bak jamur di musim hujan, baliho dan spanduk  tersebut makin hari makin banyak, padahal jadwal kampanye baik pilpres,pilgub dan pilkada belum  dimulai , apakah telah terjadi pelanggaran kampanye???
Tentu tidak ...!!! mereka dengan berbagai 1001 cara dan alasan  dengan entengnya mendirikan  kokoh baliho dan spanduk mereka di tiap sudut kota walau isi baliho dan spanduk  mereka hanya menampilkan foto foto narsis dan sekedar mengucapkan kata sapaan kepada para pembaca baliho, kata kata memuji diri sendiri. Sekiranya para pemilik baliho dan spanduk serupa pernah berinteraksi langsung dengan  masyarakat kecil  kemudian menanyakan “apakah spanduk dan baliho membuat anda kenyang?, apakah spanduk dan baliho membuat anda lebih sejahtrah atau paling tidak bahagiakah  mereka dengan hadirnya baliho dan spanduk di kota ini?” tentu kota ini tak bermandikan baliho dan spanduk
Masyarakat kecil hanya mampu menjadi saksi tak bersuara atas kesemerawutan dan ketidak teraturan penempatan baliho baliho tersebut, pedagang kaki lima kerap kali di gusur paksa dengan alasan menganggu pemandangan kota, terlebih lagi bukankah pemerintah provinsi Sulawesi selatan telah menerapkan program yang dinamai go green yang esensinya sebagai kepedulian akan lingkungan sekaligus memperindah sebuah kota, tapi baliho dan spanduk yang tak jelas tersebut justru sangat menganggu  nuasana eksotis dan madani kota ini (parepare-red)  kenapa tak di tertibkan atau sekalian di musnahkan ??? apakah karena si pemilik baliho adalah orang besar?  Punya power??  Atau kota ini (parepare-red) telah mengubah haluan dari kota bandar  madani menuju kota SEJUTA BALIHO? Dan paling extreme apakah para calon nahkoda bangsa ini telah dilanda virus narsis dan cari perhatian???
Pihak pemkot Parepare mestinya mengambil sikap tegas atas menjamurnya baliho dan spanduk narsis ini, besar harapan masyarakat agar kiranya baliho dan spanduk politik juga dibuatkan ramperda jangan hanya spanduk dan baliho iklan masyarakat yang mencoba mencari sesuap nasi dengan usaha halal di kota Parepare tercinta ini
Kalau bukan kita yang memperhatiakan kota ini siapa lagi yang akan memperhatikannya,
kalau bukan sekarang di perhatikan kapan lagi kita perhatiakan  kota ini ...apakata dunia?

Kamis, 26 Juli 2012

DIMANAKAH KAU,SANG PEMIMPIN?


OLEH BAHRUM PENA

Mungkin kita teringat dari hadist Rasululah SAW  yang mengatakan bahwa “ Setiap manusia di muka bumi adalah pemimpin” . Nah, disini kita akan sedikit menulusuri defenisi dari pemimpin itu sendiri. Menurut Miftha Thoha dalam bukunya Prilaku Organisasi (1983 : 255)
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya. Tapi saya akan memeberikan defenisi tersendiri berkacamata pada fenomena yang terjadi sekarang, pemimpin yaitu orang yang dapat berubah keaadan menjadi lebih baik dan orang yang mapu melanjutkan regenerasi atau pelanjut dalam sebuah estapet kepemimpinan dalam organisasi.
Menurut penjabaran tadi sosok seorang pemimpin sangatlah penting karena keberadaanya, karena dia merupakan sosok yang menuntun, mengatur, mengarahkan, mengorganisir, mengontrol setiap pendapat, kemauan, ataupun tujuan individu-individu yang masing-masing memiliki perbedaan. Misalkan kita analogikan seperti ini, dalam instansi ataupun perusahaan jika tidak ada seorang pemimpin, apakah yang terjadi dalam perusahaan tersebut?. Pasti  manajemen perusahan tersebut berantkan, amburadul atau bahasa kasarnya hancur. karena bayaknya pendapat yang tidak mungkin semua bisa direaqlisasikan dan tidak adanya pengambil keputusan dalam sebuah permasalahan. Pemimpin juga merupakan orang yang berhak mengambil keputusan, dan menjadi jalan tengah atau pemecah masalah sebuah problematika.
Nah, jika kita sinkronisanisasikan dengan kondisi sekarang khususnya dilingkungan kampus, sosok seorang pemipin baru masih dinantikan. Sosok pengganti estapet organisasi kampus belum bisa terlihat batang hidungnya. Padahal faktanya bahwa organisasi atau lembaga tanpa seorang pemimpin akan membuat lembaga menjadi rusak. Itu pula yang membuat arogansi individu atau kelpompok menjadi marajalela karena tidak ada sosok yang mengambil keputusan. Manajemen sebuah lembaga kampus menjadi tidak sempurna dan tidak berjalan dengan baik atau bisa dikatakan rusak. Dan itu akan berdampak pada lembaga lain.
Saat-saat sekarang banyak orang yang yang merindukan sosok seorang pemimpin. Banyak orang yang bersuara lewat dunia maya, jejaring sosial maupun dunia nyata menantikan pemimpin baru penerus generasi. Orang-orang khususnya mahasiswa menantikan seorang pemimpin bukan karena untuk mereka kagumi atau untuk dibesar-besarkan, tapi untuk menjadi penuntun bagi mereka. Dan menjadi pengambil keputusan untuk masa depan organisasi yang lebih baik. Agar organisasi tersebut dapat berjalan lancar dan terus-menerus melahirkan sosok-sosok pemimpin baru berikutnya.
Jadi dimanakah “sosok yang dituakan” tersebut saat ini. Apakah dia masih terbuai dalam tidur pulasnya?. Masihkah ia enggan untuk bangun?. Atau dia merasa dia belum pantas jadi pemimpin dengan berbagai alasannya, padalal sat ini kami butuh seorang “yang dapat dipercaya”. Apakah kami harus terus berteriak “dimanakah kau,sang pemimpin”?, tentu tidak kan?.

Kamis, 19 Juli 2012

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN



Andi Abd Muis, S.Pd.I
Staf Pascasarjana UMPAR
Kata rekonstruksi memang sering menjadi wacana di era orde reformasi ini. Orang pada gandrung dengan istilah ini. Kita banyak dipengaruhi oleh kata social construction yang kemudian diteruskan ke dalam berbagai aspek, misalnya educational construction atau konstruksi pendidikan. Penulis tahu bahwa ia telah menjadi madzab baru di dalam dunia pendidikan. Ia dimaksudkan sebagai pendidikan berbasis rakyat, berbasis kebutuhan atau berbasis stakeholder dan lebih khusus berbasis kebutuhan peserta didik Jadi yang mengkonstruksi pendidikan adalah masyarakat dan bukan elit atau bahkan pemerintah. Elit atau pemerintah hanyalah fasilitator saja yang menghubungkan kepentingan masyarakat dengan kepentingan negara atau penguasa. Inti di dalam pendidikan konstruktivistik adalah pendidikan yang lebih mengedankan aspirasi dan kesadaran masyarakat tentang pendidikan ketimbang aspirasi elit atau pemerintah. Masyarakat atau individulah yang menentukan kebutuhan macam apa tentang pendidikan dimaksud.
Untuk menyelenggarakan pendidikan sebagai wadah pelaksanaan keinginan masyarakat tersebut, maka didapati lembaga pendidikan. Yaitu sebuah institusi yang bertugas dan berfungsi untuk mendidik masyarakat di dalam mencapai cita-cita bersama sebagai bangsa, yaitu bangsa yang cerdas, kompetitif dan beradab. Untuk kepentingan mencetak guru atau calon tenaga pendidik, maka didirikan perguruan tinggi yang secara khusus mendidik guru atau calon guru. Jadi, lembaga pendidikan keguruan memiliki peran strategis untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang cerdas sebagai amanat UUD 1945. Begitu strategisnya peran pendidikan keguruan tersebut, maka nasib kecerdasan bangsa dan

Rabu, 18 Juli 2012

PASAL 31 AYAT 1 MASIH JAUH DARI PANDANGAN

Berbicara tentang pendidikan rasanya saya ingin tertawa......apalagi pada saat teman  dari PENA memintaku untuk memasukkan beberapa tulisan tentang pendidikan.......saya tersenyum kepadanya dan tertawa dalam hati saya.bukan tertawa mendengar  tema yang diangkat teman  dari PENA tapi kampus saya dan negara saya.katanya setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan gratis nyatanya apa banyak orang yang putus sekolah mulai dari SD sampai pada perguruan tinggi yang lebih parahnya lagi bahkan ada yang sama sekali tak pernah melihat bangku sekolah diakibatkan mahalnya biaya pendidikan.
    Apalagi baru-baru ini ada perbaharuan UUD tentang pendidikan yang isinya sangat tidak mendudukung pendidikan bangsa di negara kita,coba teman-teman fikirkan masa anggaran untuk pendidikan hanya 20% ...........katanya ingin mencerdaskan bangsa.kalau memang betul pemerintah i

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN MORAL DAN IQ


Rekonstruksi pendidikan saat ini sudah menjadi wacana yang harus dibuktikan. Rekonstruksi pendidikan sendiri sudah menjadi paham baru bagi dunia pendidikan. Tidak hanya elit dan pemerintah saja yang membicarakan tentang rekonstruksi ini namun masyarakat awam pun sudah mulai menggebar-gemborkan tentang rekonstruksi pendidikan ini.
Pada dasarnya elit dan pemerintah hanyalah fasilitator untuk mewujudkan layanan pendidikan yang lebih baik. Sedangkan yang menentukan keberhasilan dari perubahan ini adalah masyarakat dan individu yang bersangkutan. Untuk mewujudkan pendidikan yang sesuai denga keinginan maka didapatilah lembaga pendidikan yaitu institute yang bekerja sesuai dengan UUD 1945. Salah satu istitut yang dimaksud adalah perguruan tinggi yang membina secara khusus guru dan calon guru. Dari sini dapat kita lihat, jika terjadi kegagalan dan pendidikan keguruan itu, maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan cacat pada kualitas anak didik.
Perbaikan tidak hanya dilakukan pada wilayah tenaga pendidik saja, namun perbaikan pendidikan juga harus dilihat dari segi layanan pendidikan itu. Layanan yang dimaksd disini adalah rasa kepercayaan dari masyarakat terhadap orang-orang yang berkerja pada dunia pendidikan. Serta pemberian fasilitas yang lebih baik.
Jika layanan dan tenaga pengajar sudah mendapat sentuhan perubahan yang baik maka selanjutnya adalah rekonstruksi pendidikan dari segi moral. Melihat keadaan saat ini, informasi menjadi kebutuhan pokok untuk perkembangan dunia pendidikan. Karena kebutuhan informasi yang terus meningkat, maka arus dan perkembangan  teknologi pun tidak dapat dihindari. Perkembangan teknologi inilah yang membawa dampak pada sebagiam masyarakat, baik itu dampak positif maupun negatife.
Diawal kehidupan ini, kita telah dipisahkan oleh sekat-sekat dari setiap fase kehidupan. Sekat-sekat inilah yang tetap menjaga kesakralan suatu fase. Akan tetapi dengan perkembangan teknologi, fase-fase ini justru lebih mudah untuk dilangkahi sehingga mengurangi kesakralan yang telah dibangun sejak dulu.  Ketika rahasia-rahasia sudah menjadi milik bersama maka kesakralan itu pun kehilangan nilai sosiologisnya. Tembok pemisah yang dibangun sejak dulu dengan mudah dihancur leburkan. Tak ada lagi rahasia yang tabu untuk disaksikan oleh anak dan remaja.
Banyak yang menjadi faktor leburnya moral anak dan remaja. Salah satunya adalah hancurnya nilai moral dalam keluarga, yang mana dita ketahui bersama bahwa keluarga merupakan tempat pertama membangun moral itu. Para orang tua tidak sadar bahwa ketidak fokusannya terhadap moral anak manjadikan mereka sebagai korban dari peradaban.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan moral tersebut, salah satunya adalah dengan melakukan shalat berjamaan secara istiqamah. Selanjutnya adalah menambah frekuensi komunikasi antara keluarga dan meningkatkan pengawasan terhadap apa yang dilihat dan apa yang didengar oleh anak. Bukan hanya anak namun juga tenaga pendidik, mereka harus lebih memperhatikan kebutuhan para remaja dan anak-anak. Karena selain pengaruh dari lingkungan keluarga, pengaruh dari masyarakat pun juga mengambil andil dari perubahan moral tersebut.
Dari sini dapat kita katakana bahwa, rekonstruksi pendidikan ditak hanya harus berpusat pada perbaikan layanan pendidikan dan kualitas tenaga pendidik, namun rekusntruksi pendidikan juga harus lebih memperh
atikan rekonstruk moral. Karena dengan begini, pendidikan akan berjalan dengan baik jika pendidikan moral seimbang dengan pendidikan IQ.

SINETRON = BODOH


Dunia hiburan Indonesia memang tengah mengalami pertumbuhan yang positif, dapat dilihat dari banyaknya penghargaan yang diterima baik didalam maupun diluar negeri film Indonesia tidak jarang menerima penghargaan. Tentu, itu sangat membanggakan kita sebagai rakyat Indonesia. Tapi ada satu Industri pertelevisian di Indonesia yang menurut banyak orang tidak layak ditayangkan karena hanya sebagai ajang pembodohan para pemirsa yang menontonnya.
Ya,,, dunia drama serial atau yang paling kita tau  adalah tayangan Sinetron. Banyak orang berpendapat jika tayangan Sinetron tersebut tidak layak ditonton oleh semua kalangan masyarakat,, terutama kita sebagai masyarakat terpelajar. Beberapa akting pemeran yang ada dalam sebuah sinetron banyak yang mengandung unsur  tidak normatif.

TENGGELAM DI DUNIA MAYA



Dunia Online, kini telah menjamur di segala lini  kehidupan. Tidak  perduli anak-anak sampai orang dewasa. Kini sudah mengenal dunia tersebut.
Bisa di katakan bahwa, modernisasi memang sudah tidak terbantahkan keberadaannya. Indonesia misalnya yang kini menjadi pengguna Facebook terbesar kedua dengan presentase 35 juta pengguna (http://id.berita.yahoo.com/indonesia-urutan-ke-2-terbesar-pengguna-facebook)
Presentase tersebut naik menjadi 41.777.240  pengguna per 1 Januari 2012. Sebuah jumlah yang sangat besar. Hanya saja, ternyata jumlah tersebut mampu digeser oleh India dengan jumlah pengguna sebanyak 41,858,380. Dan menggeser Indonesia ke urutan ke tiga.(http://teknologi.kompasiana.com/internet/2012/01/13/jumlah-pengguna-facebook-akan-mencapai-1-miliar-indonesia-tergeser-ke-urutan-3)
Hal yang sangat mencengangkan bagi penulis sendiri. Dan menjadi keprihatinan yang sangat mendasar. Karena dari pengalaman penulis. Dari sekian banyak status Facebook, bisa di katakana lebih banyak yang menuliskan status “Lebay” dan tidak memiliki nilai yang dapat di diskusikan.
Dan yang membuat penulis merasa gerah adalah banyaknya yang menyukai status tersebut dengan pemberian jempol, belum lagi komentarnya yang ikutan “lebay” dan “tidak karuan” bahkan pernah penulis menemukan sebuah status yang memiliki seribu lebih komentarnya. Entah apa isi komentarnya karena penulis tidak sempat membaca semuanya.
Satu hal lagi yang menjadi sifat-sifat dari kebanyakan pengguna facebook. Jika ada status yang “nggak lebay”  dan memiliki nilai Dakwah di dalamnya. Komentarnya tidak seberapa. Bahkan ada yang sama sekali tidak di koment. Belum lagi pajangan foto pribadi yang di luar dari koridor kewajaran.
Pernah penulis mengomentari Foto salah satu pengguna faceebook yang memajang dengan aksi mencium pasangannya, dan pernah juga yang dengan saling berciuman. Sebenanya bukanlah fotonya yang jadi masalah, jika yang melakukannya non muslim. Tapi nyatanya, pelakunya adalah Orang islam (seperti yang tertulis dalam info facebooknya).
Tidak hanya sampai di situ, bahkan adapula yang yang hanya memakai….. (tiiiiiiittt_sensor). Sungguh sangat ringis, semua itu sudah jauh dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia sendiri. Facebook sudah menenggelamkan penggunanya dalam lembah kehinaan.
Melalui tulisan ini penulis mengajak para facebooker untuk menggunakan facebook dengann sebaikbaiknya. Jadikan lahan dakwah dan berdiskusi. Dan satuhala lagi. Jangan membawa perang ideology di facebook ke luar dar jalur online.002

Keputusan Yang Tidak Pro Rakyat


Alangkah mirisnya nasib bangsa ini, sudah jelas bahwa seluruh warga Indonesia menolak karena akan tersiksa dengan naiknya harga bahan bakar minyak. Namun itu tetap di berlakukan meskipun saat ini di tunda untuk sementara waktu dalam jangka yang mungkin belum di ketahui kapan.
Hasil sidang Paripurna yang membahas RUU Perubahan Pasal 7 Ayat 6A RAPBN-P.
Diadakannya voting untuk memilih 3 opsi, yaitu :
  1. Fraksi PDIP, Fraksi Gerindra, dan Hanura Menyatakan pasal 7 ayat 6 tetap dan tidak ada penambahan ayat baru.
  2. Fraksi Golkar pasal 7 ayat 6 tetap dan ditambah ayat 6 (a) persentase rata-rata 15 persen dengan jangka waktu 6 bulan.
  3. Fraksi Partai Demokrat bersama Fraksi PAN, dan Fraksi PPP, serta Fraksi PKB ada empat fraksi, pasal 7 ayat 6 tetap dan ditambah ayat 6 (a) prosentase 10 persen dengan jangka waktu 3 bulan.
Yang pada ahirnya di setujui opsi ke dua. Yang sebenarnya tidak ada keberpihakan kepada rakyat. Karena suatu saat akan terjadi pula kenaikan harga BBM. Yang sekarang hanya di tunda demi menenangkan semua kerusuhan yang terjadi selama proses keinginan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.
Pemerintah dalam hal ini SBY dan fraksi-fraksi pendukungnya, telah menindas hati nurani bangsa Indonesia. penderitaan demi penderitaan akan terus menyusul selama keinginan itu masih terus ada dan terus akan di berlakukan. Sekarang saja, BBM baru mau di naikkan bahkan sudah di tunda, sudah banyak barang kebutuhan masyarakat yang naik dari harga sebelumnya. Seperti pengalaman seorang teman. Nah, sekarang bayangkan bagaimana jika BBM sudah naik. Maka itu akan terus menaikkan harga barang yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat Indonesia.
Menurut kajian pemerintah, jika harga BBM memang naik Rp. 1.500 per liter, inflasi di perkirakan bertambah 2,15 %. Penghematan yang di peroleh pemerintah mencapai Rp 31,58 triliun. Jumlah pendudukan miskin naik sekitar 0,98 % dan daya beli masyarakat menurun 2,1 persen. Pemerintah yakin harga-harga nantinya masih bisa di control dan harga pangan tidak akan melonjak (Buleti Dakwah Al Islam edisi : 598/Th.XIX/1433 H).
Alangkah malangnya nasib rakyat kecil yang di anggap begitu remeh oleh penguasa bangsa ini. Meskipun itu semua sudah di tunda. Sekali lagi “di tunda” yang dalam artian masih bisa berlaku suatu saat nanti. Penguasa bangsa ini tahu, bahwa jika BBM naik, berapapun harga yang akan menjadi tumpuan kenaikannya. Tetap saja rakyat akan membelinya. Karena itulah kebutuhan masyarkat yang sangat mendasar sekali.
Tapi di balik semua itu, penguasa negeri ini telah menunjukkan jati dirinya sebagai penguasa yang salim. Yang tidak pro dengan rakyat. Dan menjelaskan dirinya sebagai antek-antek dari kapitalisme. Bagian hulu dari minyak bumi dan gas bangsa ini (tambang minyak). Sebagian besarnya di kuasai oleh pihak asing. Dan apabila harga BBM naik maka bagian hilir (pendistribusiannya)pun aka segera di dominasi oleh mereka. Bagaimana tidak, izin pendirian SPBU yang di berikan pemerintah kepada mereka, tidak akan mereka pergunakan selama BBM Indonesia masih di subsidi pemerintah (hasil diskusi Klub DEALOGIKA Pare).
Bahkan mungkin, Penghematan yang di peroleh pemerintah, yang mencapai Rp 31,58 trilun itu. Hanya akan berahir di kantong para koruptor birokrasi yang kini masih meraja lela di negeri ini. sungguh malang nasib bangsa ini. Rakyat menangis. Bangsa menangis. Dan pemerintah tidak perduli.

Pemuda, Budaya Sampah dan Peran Pemerintah

BANGSA Indonesia dikenal memiliki akar sejarah yang jelas, dari asal usul budayanya yang beranekaragam, bahasanya yang banyak, tertulis dan difahami oleh seluruh rakyatnya. Rasa kasih-sayang, gotong royong, semangat kolektifitas serta rasa kesopan-santuan layaknya adat ketimuran, itulah bagian dari kultur Indonesia yang dikenal sejak dahulu.

Lebih-lebih ketika masuknya Islam di bumi Nusantara, adat-istiadat itu menjadi lebih maju dan lebih berakhlaq. Para ulama zaman dahulu bahkan sangat berhati-hati menerima masuknya budaya asing. Karenanya, budaya seperti perayaan Hari Valentine’s tidak tercatat sejarah dan tidak pula pernah dijadikan kebanggakan bangsa Indonesia. Boleh dibilang, budaya ini
lebih tepat disebut bencana.

Anehnya, saat ini, di mata anak-anak muda, budaya  seperti ini cepat mewabah. Saling memberikan ucapan selamat, saling mengungkapkan rasa cinta, romantika dan segala ketulusan dengan  berbagi

loyalitas itu hadiah



John W. Gardner dalam bukunya On Leadership (Free Press, 1990) antara lain menulis : "Konstituen yang setia dimenangkan oleh mereka yang, sadar atau tidak, dinilai cakap untuk memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan mereka, ketika pemimpin terlihat seperti simbol yang mewakili norma-norma yang mereka anut, dan ketika citra sang pemimpin itu (apakah itu berkesesuaian dengan kenyataan atau pun tidak) selaras dengan mitos-mitos dan legenda yang mereka percayai".

Pernyataan itu menegaskan bahwa loyalitas adalah 'hadiah' yang diberikan oleh konstituen kepada orang yang mereka anggap pantas menjadi pemimpin mereka. Dan 'hadiah' itu diberikan berdasarkan persepsi mereka tentang kemampuan seseorang untuk mewakili mereka dalam hal tertentu. "Kemampuan" dalam hal apa? Utamanya dalam hal memberikan pemecahan masalah dan melayani kebutuhan para konstituen tersebut.

Dengan logika terbalik dapat dikatakan bahwa loyalitas bukanlah sesuatu yang dapat 'dipaksakan' seorang pemimpin kepada konstituennya. Sebab bagaimana mungkin seseorang boleh (sekalipun mungkin dapat) memaksa pihak lain untuk memberikan suatu 'hadiah' kepada dirinya? Bukankah hal itu, seperti yang biasa dilakukan oleh pejabat Orde Baru kepada kroni-kroni mereka, tidak saja lucu dan wagu, tetapi juga irrasional? Dan bukankah orang yang tidak mampu berpikir rasional tidak pernah layak kita angkat sebagai pemimpin?

Lebih jauh dapat pula dikatakan bahwa dalam hal kepemimpinan, akan lebih berguna jika kita mempelajari hal ihwal pelayanan konsumen (customer service) ketimbang banyak buku manajemen yang memperlakukan orang lain sebagai things dan bukan people (ingat, we manage things and lead people). Sebab dengan konsep-konsep pelayanan pelanggan atau konsumen seseorang dapat belajar bagaimana melayani konstituennya (baca: konsumennya). Bila tingkat kepuasan konsumen atau konstituen meningkat, maka layaklah diharapkan loyalitasnya pun naik.

Untuk dapat menciptakan konstituen yang loyal, pemimpin tak bisa lari dari kewajiban mengenali nilai-nilai dan norma-norma yang dianut konstituennya, mengetahui mitos-mitos dan legenda yang dipercayai konstituennya, dan bertindak dalam bingkai yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka itu. Ibarat seorang pembicara publik yang profesional, pemimpin wajib mengenal 'audiensnya' sebelum, ketika, dan sesudah berbicara. Tanpa itu ia tidak akan didengarkan dengan sungguh-sungguh. Tanpa itu ia tidak bisa berbicara untuk menawarkan pemecahan masalah atau hal lainnya. Tanpa itu ia tidak tahu kompetensi apa yang perlu dikembangkannya. Tanpa itu ia tidak tahu visi macam apa yang akan menarik dan menggerakkan hati konstituennya. Tanpa itu ia tidak akan diikuti dengan setia.

Karena memenangkan hati konstituen, termasuk konsumen meski tak terbatas hanya itu, adalah suatu proses 'transaksi' dan mengandung unsur 'kompetisi', maka tak pelak lagi pemimpin harus memiliki kecakapan dalam hal komunikasi dan membina hubungan interpersonal. Ia terutama harus dapat menjadi pendengar yang empatik. Ia harus dapat membaca bahasa tubuh dan mata konstituennya. Ia harus mampu berbicara mewakili jeritan dan impian dari hati konstituennya (yang acap kali tak terucapkan). Ia harus bisa menuliskan pesan-pesan yang menggambarkan keinginan konstituennya. Dan seterusnya. Singkatnya, ia harus pertama-tama cukup rendah hati dan banyak mendengarkan (listening bukan sekadar hearing) konstituennya sebelum angkat bicara.

Tentu saja semua itu hanya penting kalau sang pemimpin ingin mendapatkan hadiah bernama loyalitas. Bukankah demikian?Wrd.pn

Selasa, 17 Juli 2012

Antara Nilai Dan Prestasi

Semester adalah medan perang. Apabila semester akan dimulai. Para kesatria kampus akan siap siaga. Walau masih dalam skala kecil di bandingkan ujian meja untuk skripsi. Berbagai strategi di luncurkan untuk menyayat berbagai soal-soal yang ada. Mulai dari belajar semalaman di temani kopi sebagai penahan kantuk. Lemabaran-lembaran buku dan catatan kuliah di buka. Bahkan mungkin penyakit SMA masih ada. Yaitu “catatan iblis” di balik sobekan kertas kecil.
Tugas yang belum selesai jadi sasaran empuk “Si Tuan Begadang”. Apalagi kalau syarat mengikuti final adalah terkumpulnya tugas tersebut. Mahasiswapun rela begadang semalaman demi tugas tersebut. Tak perduli nanti bagaimana hasilnya.

Harapan Di Balik Harapan

Setiap awal tahun, akan selalu di barengi dengan sebuah harapan baru. Harapan dengan adanya peningkatan dari tahun kemarin. Di Koran FAJAR misalnya, mimbar demokrasi yang di sediakan pihak redaksi FAJAR yang berda pada halaman Opini, yang mana mimbar tersebut memberikan kesempatan untuk para pembaca untuk melontarkan ide, gagasan, masukan, ataupun kritikan yang membangun.
Pada tanggal 26 sampai dengan 31 desember 2011 lalu. Redaksi FAJAR, mengangkat tema “Harapan Baru Di Tahun Baru”. dan tidak main-m,ain. Tema yang menjadi topik penulisan yang berlangsung selama enam kali penerbitan. Menghasilkan banyaknya harapan-harapan dari kalangan pembaca Koran FAJAR.
Seperti misalnya Romi Rukmana, dari Palopo, berharap akan adanya kedamaian di Indonesia dan tidak ada lagi koruptor baru yang muncul (Opini Fajar, Rabu, 28 Desember 2011). Sebuah harapan yang sungguh jauh dari kata main-main. Sebuah harapan yang hampir mustahil akan terlaksana.
Bagaimana tidak, korupsi sudah menjadi kejahatan mendarah daging dari pelakunya. Bahkan UU No 30 Tahun 2002 meletakkan korupsi sebagai extra ordinary crime (kejahatan luar biasa). Sama dan setaraf dengan terorisme (Opini Fajar, H. Abustan, praktisi hukum, 30 desember 2011). Sebuah kejahatan yang sungguh luar biasa. Sehingga perlu penanganan yang sangat luar biasa juga. Mari kita tengok cina, vonis mati sudah menjadi harga mati bagi para koruptor.
Harapan lain di hadirkan Andi Savina, seorang mahasiswi STIEM YPUP. Yaitu sebuah harapan akan terbukanya lapangan pekerjaan. Dengan harapan di balik harapan, bila lapangan pekerjaan terbuka luas. Maka tidak ada lagi kerusuhan dimana-mana. Dan pada dasarnya itulah yang menjadi harapan bersama rakyat Indonesia tentunya.
Refleksi Tahun Baru
Sangat wajar. Bila tahun baru selalu di barengi dengan sebuah harapan baru. meski pada dasarnya harapan serupa sudah menjadi sebuah harapan pada tahun baru kemarin. Dan jika itu benar berarti harapan tersebut belum bisa terealisasikan. Karena masih menjadi sebuah pekerjaan rumah pada tahun berikutnya.
Lantas apa yang harus di lakukan? Haruskah kita berdiam diri dan mengisap jempol saja. Tentu tidak!. Kita harus merealisasikan harapan tersebut. Kita mesti mau menjadikan harapan itu manjadi sebuah kenyataan. Bukan hanya menjadi mimpi dikala terjaga. Dan itu masti di mulai pada diri pribadi.
Jika kita berkata mau. Seperti apa wujud dari mau itu? Salah seorang dosen STAI DDI AD Mangkoso pernah mengatakan bahwa mau itu adalah Mesti Ada Usaha. Sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa yang mengatakan mau tapi tidak memiliki sebuah usaha maka itu sama saja dengan nihil.
Tindakan korupsi misalnya. Di tengah-tengah kita barangkali ada sebuah tindakan korupsi (meski masih dalam skala kecil-kecilan) kita malah membiarkannya berbunga dan menebarkan harum kesengsaraan. Jika memang ada yang demikian. Mana refleksi dari sebuah harapan besar tadi?. Yang mendambakan Indonesia yang bersih dan terbebas dari korupsi. Itukan sama halnya mengosongkan mimpi. Bila memang sudah cukup bukti. Mari kita bertindak. Jadilah racun bagi tikus-tikus busuk yang licik itu.
Ada sekian banyak harapan yang menjadi batu tumpuan kiat masing-masing. Yang menjadi tujuan besar kedepannya. Di atas merupakan harapan besar masyarakat Indonesia. Dan perlu di pahami bahwa. Tidak hanya di pundak aparatur terkait setiap urusan di bebankan. Kitapun mesti turut andil dan membantu
Membuka Catatan Lama.
Lembaran baru 2012 memang telah terbuka. Menutup lembaran demi lembaran tahun 2011. Namun perlu di pahami bahwa, walaupun demikian. Semestinya catatan-catatan selama di tahun 2011 dapat menjadi acuan tindakan di tahun 2012. Tidak hanya menjadi pajangan di perpustakaan masa.
Kita mesti tahu, apa yang telah di lakukan dan sudah maksimalkah itu di tahun 2011 kemarin. 2011 mesti menjadi bahan evaluasi baik untuk diri apalagi untuk sesama. Misalnya, bagaimana teknik belajarnya kita sebagai mahasiswa? Sudah maksimalkah itu? Kalau belum mari kita maksimalkan. Dan apabila sudah maksimal, mari kita tampilkan kiat-kiat yang baru yang mampu memberikan nilai plus plus dan plus untuk kita.
Mengutip sambutan ayahanda Rektor Umpar, pada saat penerbitan perdana Tabloid Sahabat Pena oleh UKM Pers PENA UMPAR yang mengatakan bahwa dosen hanya bisa memberikan ilmu sekitar 20% saja dan 80%nya mesti di cari sendiri oleh mahasiswa. Sehingga dapat di simpulkan bahwa keberhasilan mahasiwa tidaklah terlalu di pengaruhi oleh proses belajar mengajar di kampus. Tapi bagaimana mahasiswa mengembangkan prosesitu menjadi sebuah kajian besar. Setidaknya untuk diri sendiri. Dan Pimpinan serta dosenpun mesti memberikan dukungan penuh dengan kegiatan mahasiswa dalam pengembangan dirinya itu. Agar nantinya alumnus dari UMPAR mampu memberikan nilai positif di mata masyarakat.

Senin, 09 Juli 2012

Sejarah Penentuan Kalender Islam (Hijriyah)

Pada tahun 682 Masehi, 'Umar bin Al Khattab yang saat itu menjadi khalifah melihat sebuah masalah. Negeri islam yang semakin besar wilayah kekuasaannya menimbulkan berbagai persoalan administrasi. Surat menyurat antar gubernur atau penguasa daerah dengan pusat ternyata belum rapi karena tidak adanya acuan penanggalan. Masing-masing daerah menandai urusan muamalah mereka dengan sistem kalender lokal yang seringkali berbeda antara satu tempat dengan laiinnya.
Maka, Khalifah 'Umar memanggil para sahabat dan dewan penasehat untuk menentukan satu sistem penanggalan yang akan diberlakukan secara menyeluruh di semua wilayah kekuasaan islam.
Nama bulan-bulan dalam kalender islam
Sistem penanggalan yang dipakai sudah memiliki tuntunan jelas di dalam Al Qur'an, yaitu sistem
ALLAZI ALLAMA BILKALAM ALLAMAL INSANA MALAM YA'LAM