Semester
adalah medan perang. Apabila semester akan dimulai. Para kesatria kampus akan
siap siaga. Walau masih dalam skala kecil di bandingkan ujian meja untuk
skripsi. Berbagai strategi di luncurkan untuk menyayat berbagai soal-soal yang
ada. Mulai dari belajar semalaman di temani kopi sebagai penahan kantuk.
Lemabaran-lembaran buku dan catatan kuliah di buka. Bahkan mungkin penyakit SMA
masih ada. Yaitu “catatan iblis” di balik sobekan kertas kecil.
Tugas yang belum
selesai jadi sasaran empuk “Si Tuan Begadang”. Apalagi kalau syarat mengikuti
final adalah terkumpulnya tugas tersebut. Mahasiswapun rela begadang semalaman
demi tugas tersebut. Tak perduli nanti bagaimana hasilnya.
Tidak perduli apakah materi yang ada dalam tugas itu sudah di kuasai atau belum. Yang jelas demi masuk final semua akan di lakukan.
Tidak perduli apakah materi yang ada dalam tugas itu sudah di kuasai atau belum. Yang jelas demi masuk final semua akan di lakukan.
Sistem ”kepepet”
seperti di atas menjadi budaya tersendiri. Agar nilai akademik tetap jalan
walau hasil belum tentu memuaskan. Bahkan ada yang meminta jawaban dan rela
berbagi jawaban dengan teman yang dekat dengan tempat duduknya. Belum lagi
jelajah sms saat ujian berlangsung. Pertanyaan dalam lembaran soal di sms ke
seorang bahkan mungkin banyak teman yang ada di luar ruangan tersebut. Agar
dapat di bantu mencarikan jawabannya. Itu semua demi nilai.
Ada sebuah kelakar yang
mengatakan bahwa pertanyaan dalam lembaran soal itu sebenarnya sangatlah mudah.
Yang susah hanyalah jawabannya.
Tidak bisa di pungkiri
bahwa itu adalah salah satu stigma yang menggrogoti pikiran mahasiswa bahwa
menjawab soal ujian itu sangatlah susah. Bukannya mudah. Tidak mengherankan
bila berbagai kecurangan akan di lakukan demi mendapat jawaban yang pas untuk
setiap soal. Karena di pikiran Cuma satu “menjawab soal itu susah”. Atau barang
kali memang sampai di situ saja kemampuan mahasiswa. Tidak ada bedanya dengan
anak SMA atau barang kali anak SMA lebih baik. Hanya kebetulan saja kita lebih
dulu menduduki bangku kuliah.
Setelah semester
berlalu. Nilai ujian mulai di cari. Bagaimankah hasilnya. Memuaskan?.
Alhamdulillah. Namun, melihat fenomena
di atas, apakah nilai yang tinggi hasil dari tiap
semester dapat menjamin mahasiswa tersebut di katakan berprestasi?.(002)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar