Senin, 09 Juli 2012

TIDAK TAKUT NILAI EROR

Nilai eror menakutkan bagi semua mahasiswa, siapa tidak takut kalau nilai eror membuat harus mengulang di tahun berikutnya. Bahkan ada yang tidak selesai sampai semester 16 gara-gara nilai eror. Tidak sedikit mahasiswa yang menjadi korbannya terutama mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR). Sebenarnya nilai eror yang keluar itu diakibatkan oleh mahasiswa itu sendiri selama perkuliahaan berlangsung. Mungkin karena mahasiswanya yang malas atau mahasiswanya yang memang tidak mengerti dengan materi kuliah ataukah mhasiswa yang tidak sempat ikut final. Yang menjadi sebuah pertanyaan adalah mungkinkah dosen mengeluarkan nilai eror kalau mahasiswanya cerdas, rajin dan menyelesaikan semua tugas serta mengikuti final dengan baik?
Dosen tidak mungkin mengeluarkan nilai eror kepada mahasiswa apabila serajin itu kecuali kalau mahasiswa itu nakal dan pernah berkata kasar kepada mahasiswa atau kepada dosennya langsung. Wajarkan..............! tapi hingga hari ini belum ada yang kejadian seperti itu walaupun ada, tidak akan separah itu hingga menemui nilai eror di KRS, paling tidak nilai yang keluar minimal “C”. Jadi jangan takut hal yang seperti itu tapi jangan juga sampai dilakukuan.
Lebih lucu lagi ketika kita menemukan mahasiswa yang masuknya hanya 3 kali tapi mendapatkan
nilai “A” mungkinkah itu ? bisa saja, apabila justru dosennya yang malas hingga masuknya tidak lebih dari 5 kali pertemuan. Jadi wajar saja ketika nilai “A” harus keluar kepada mahasiswa yang masuk kuliah hanya 3 kali.
Ada juga mahasiswa masa bodo yang tidak takut dengan nilai eror. Mahasiswa ini dikategorikan malas masuk kuliah, malas kerja tugas, pokonya serba malas, dan ada juga mahasiswa yang tidak takut nilai eror seperti mahasiswa yang kerjanya diskusi tiap malam hingga tidak bisa bangun pagi. Ada juga mahsiswa yang sok pintar mahasiswa ini yang menurutnya bahwa masuk atau tidak masuk kuliah sama saja karena materi yang ada di bangkuh kulia itu sudah pernah dia dapat di tempat lain. Katanya bahwa lebih baik dia kerja yang lain dari pada masuk kuliah, buang waktu dan tenaga.  Mahasiswa ini mengandalkan daya pikirnya yang rasional terbukti ketika diperhadapkan soal-soal atau berbagai pertanyaan dia mampu mengerjakan dengan baik walaupun tidak masuk kuliah. Tapi bukankah penilaian dosen bukan hanya sekedar cerdas atau tidak, tapi tingkat kemalasan tatap muka. Karena kehadiran juga menjadi penialain terhadap mahasiswa.
Bukankah kehadiran menjadi persyaratan utama mengikuti final berdasarkan peraturan yang keluar dari pimpinan bahwa yang tidak mencapai kehadiran 80% tidak berhak mengikuti final.  Namun sebagian dosen menjadikan penilaian terhadap mahasiswa bukan sekedar persyaratan utama untuk mengikuti final.

Tidak ada komentar:

ALLAZI ALLAMA BILKALAM ALLAMAL INSANA MALAM YA'LAM