Dosen tidak mungkin mengeluarkan nilai eror kepada mahasiswa apabila serajin itu kecuali kalau mahasiswa itu nakal dan pernah berkata kasar kepada mahasiswa atau kepada dosennya langsung. Wajarkan..............! tapi hingga hari ini belum ada yang kejadian seperti itu walaupun ada, tidak akan separah itu hingga menemui nilai eror di KRS, paling tidak nilai yang keluar minimal “C”. Jadi jangan takut hal yang seperti itu tapi jangan juga sampai dilakukuan.
Lebih lucu lagi ketika kita menemukan mahasiswa yang masuknya hanya 3 kali tapi mendapatkan
Ada juga mahasiswa masa bodo yang tidak takut dengan nilai eror. Mahasiswa ini dikategorikan malas masuk kuliah, malas kerja tugas, pokonya serba malas, dan ada juga mahasiswa yang tidak takut nilai eror seperti mahasiswa yang kerjanya diskusi tiap malam hingga tidak bisa bangun pagi. Ada juga mahsiswa yang sok pintar mahasiswa ini yang menurutnya bahwa masuk atau tidak masuk kuliah sama saja karena materi yang ada di bangkuh kulia itu sudah pernah dia dapat di tempat lain. Katanya bahwa lebih baik dia kerja yang lain dari pada masuk kuliah, buang waktu dan tenaga. Mahasiswa ini mengandalkan daya pikirnya yang rasional terbukti ketika diperhadapkan soal-soal atau berbagai pertanyaan dia mampu mengerjakan dengan baik walaupun tidak masuk kuliah. Tapi bukankah penilaian dosen bukan hanya sekedar cerdas atau tidak, tapi tingkat kemalasan tatap muka. Karena kehadiran juga menjadi penialain terhadap mahasiswa.
Bukankah kehadiran menjadi persyaratan utama mengikuti final berdasarkan peraturan yang keluar dari pimpinan bahwa yang tidak mencapai kehadiran 80% tidak berhak mengikuti final. Namun sebagian dosen menjadikan penilaian terhadap mahasiswa bukan sekedar persyaratan utama untuk mengikuti final.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar