Kamis, 05 Juli 2012

Telaah Kritis Terhadap Gerakan Mahasiswa Kekinian


 
Oleh: Yusran Bachtiar
Ketua Komisi: C (Undang-undang, Politik, dan Advokasi)
MPM UMPAR 

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, Fuji syukur kehadirat Allah SWT, dan Salawat atas junjungan Rosulullah Muhammad SAW.

Empat belas tahun perjalanan reformasi, sebuah hasil perjuangan dari pergerakan mahasiswa sebagai perwujudan nilai-nilai keadilan, pemeratahan bangsa yang berdaulat dan bermartabat masih menuai berjuta pertanyaan rakyat hingga saat ini, bahkan pergantian kepemimpinan pasca lengser kepanditoan presiden Suharto, berawal dari Bpk Presiden Habibie, gusdur, megawati hingga presiden Susilo bambang Yudhoyono selama dua Periodenya nyatanya belum memiliki
pengaruh signifikan dalam merealisasikan cita-cita perjuangan gerakan mahasiswa

Berbagai peristiwa-peristiwa lahir dianggap suatu yang wajar ketika bermunculan dalam kondisi saat ini, sulitnya orang mencari sesuap nasi, mencari pekerjaan, menempuh pendidikan yang layak adalah salah satu diantara sekian banyak persoalan yang mendorong kekecewaan publik, belum lagi peristiwa KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) yang merajalela. Rezim pasar global, yang kemudian peran negara secara perlahan-lahan digantikan oleh lembaga-lembaga asing supranegara seperti IMF, World Bank, WTO, TNC/MNC, yang semua mereka rancang habis-habisan untuk keuntungannya tampa memikirkan kerugian bangsa kita, yang ditaksir lebih dari satu teriliunan perjam. Belum lagi pencurian terhadap asset-asset bangsa yang kaya akan SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam)nya. sebut saja Negara malaysia mengambil kebudayaan, serta PETA bangsa sedikit demi sedikit terkikis lenyap dari gambarnya, salah satu bukti baru-baru ini, Pulau Datu seluas 1.500 Hektar dengan keunggulan pulau wisata nan elok dengan pasir putihnya, yang katanya hampir sebanding dengan keindahan pulau bali, Camar Bulan seluas 800 hektar dengan potensi kekayaan alamnya, yang semua itu dengan gencarnya pemerintah malaysia mempromosikan kepada publik internasional sebagai salah satu pulau wisata miliknya yang Welcome untuk dikunjungi, agar mudah mengklaim bahwa itu adalah kepunyaannya. ironisnya semua diambil dengan terang-terangan, namun pemerintah kita seakan-akan tidak tahu menahu dan tidak mau tahu akan persoalan itu, belum lagi persoalan yang berskala regional, tingkat kabupaten/kota hingga permasalahan terkecil sekalipun yang semakin hari semakin menumpuk tampa urung penyelesaiannya

Mahasiswa yang dikenal sebagai peran aspirator rakyat masih sibuk bergelut dalam ruang lingkup internalnya masing-masing, terperangkap dalam tempurung dengan menjalankan aktifitas yang kadang tidak produktif serta bersifat pragmatis, apalagi diantara mereka asyik dalam membuat kesibukan kompetisi sesama kawan sendiri yang semestinya dijalani dengan rasio, namun realitasnya hanya aksi yang tidak mencerminkan sikap sebagai seorang mahasiswa, sehingga bukanlah suatu keniscayaan jika citra mahasiswa sebagai insan intelektual yang dikenal ramah akan ketamahannya, serta tegas dalam kritiknya sebagai harimau forum, tergantikan dengan kecenderungan yang baru, sebagai elit beringasan yang kini tak bertaring lagi. Semangat budaya kita sebut saja kesatuan gerakan yang dikenal sebagai semangat gotong royong kini tidak terlihat lagi sebagai watak bangsa, justru berubah menjadi bangsa yang suka tawuran dan gonto-gontokan. Intinya spirit kaum intelaktual kini terengah-engah dalam daya saing yang rendah akan kepercayaan diri, dengan kekayaan modal sosial yang dulu mereka dapatkan kini mulai redup bersamaan miskinnya harga diri. Ujung-ujungnya ini menjadi sebagai cermin pemerintah dan masyarakat luas sehingga gaung mahasiswa mulai lenyap dan tidak memiliki lagi nilai tawar lebih.

Olehnya itu untuk meretas paradigma tersebut, dalam rangka menjawab hiruk pikuk persoalan yang tengah dijalani saat ini, mahasiswa sebagai bagian besar eksponen perubahan memiliki kewajiban, untuk menarik kembali benang merah sejarah bangsa sebagai langkah evaluasi strategi gerakan yang telah mereka lakukan, sehingga mampu merumuskan sesuatu yang baru dalam mencapai titik sasaran yang tepat. Karna mahasiswa adalah tulang punggung sekaligus penentu kelangsungan kehidupan bangsa, yang tentunya memiliki tanggung jawab besar dalam membangun bangsa ini.

Mahasiswa sebagai salah satu aktor insan intelektual yang tetap berada pada fase aktualisasi, tidak lagi berbicara identitas warna maupun suku bahkan ideologipun sekaligus, karna itu semua sudah tuntas dibahas oleh para pendahulu kita. Justru inilah saatnya dimana kita saling mengengam tangan dan merapatkan barisan, tanpa melihat dari sisi warna (perguruan tinggi, Fakultas, & Jurusan) etnis dan budaya, bersama-sama memasuki fase usia kematangan kita, baik dalam matang berfikir, matang bersikap, terlebih lagi matang dalam mengambil tindakan atau aksi, baik itu berskala nasional, regional, kabupaten/kota, kampus, hingga persoalan sekecil apapun itu.

Sebagai sebuah kata penutup, Saya selaku Aktivis Mahasiswa bangga dengan kehadiran beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)  diantaranya UKM PERS PENA , dan UKM. FOKUS (Fotografi Kampus) diharapkan menjadi salah satu media Publik ajang silaturrahim dalam gagasan ide antara mahasiswa dalam mewujudkan massivitas gerakan, sekaligus media informasi sebagai referensi dalam mengidentifikasi, menginfentarisir dan sebagai salah satu titik acuan langkah taktis strategi gerakan  mahasiswa.

Billahi Fii Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Tidak ada komentar:

ALLAZI ALLAMA BILKALAM ALLAMAL INSANA MALAM YA'LAM