Oleh: Yusran Bachtiar
Ketua
Komisi: C
(Undang-undang, Politik, dan Advokasi)
MPM
UMPAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, Fuji
syukur kehadirat Allah SWT, dan Salawat atas junjungan Rosulullah Muhammad SAW.
Empat belas tahun
perjalanan reformasi, sebuah hasil perjuangan dari pergerakan mahasiswa sebagai
perwujudan nilai-nilai keadilan, pemeratahan bangsa yang berdaulat dan
bermartabat masih menuai berjuta pertanyaan rakyat hingga saat ini, bahkan pergantian
kepemimpinan pasca lengser kepanditoan presiden Suharto, berawal dari Bpk
Presiden Habibie, gusdur, megawati hingga presiden Susilo bambang Yudhoyono
selama dua Periodenya nyatanya belum memiliki
pengaruh signifikan dalam merealisasikan cita-cita perjuangan gerakan mahasiswa
pengaruh signifikan dalam merealisasikan cita-cita perjuangan gerakan mahasiswa
Berbagai peristiwa-peristiwa
lahir dianggap suatu yang wajar ketika bermunculan dalam kondisi saat ini,
sulitnya orang mencari sesuap nasi, mencari pekerjaan, menempuh pendidikan yang
layak adalah salah satu diantara sekian banyak persoalan yang mendorong
kekecewaan publik, belum lagi peristiwa KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) yang
merajalela. Rezim pasar global, yang kemudian peran negara secara
perlahan-lahan digantikan oleh lembaga-lembaga asing supranegara seperti IMF,
World Bank, WTO, TNC/MNC, yang semua mereka rancang habis-habisan untuk
keuntungannya tampa memikirkan kerugian bangsa kita, yang ditaksir lebih dari
satu teriliunan perjam. Belum lagi pencurian terhadap asset-asset bangsa yang
kaya akan SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam)nya. sebut saja Negara
malaysia mengambil kebudayaan,
serta PETA bangsa sedikit demi sedikit terkikis lenyap dari gambarnya, salah
satu bukti baru-baru ini, Pulau Datu seluas 1.500 Hektar dengan keunggulan
pulau wisata nan elok dengan pasir putihnya, yang katanya hampir sebanding
dengan keindahan pulau bali, Camar Bulan seluas 800 hektar dengan potensi
kekayaan alamnya, yang semua itu dengan gencarnya pemerintah malaysia
mempromosikan kepada publik internasional sebagai salah satu pulau wisata
miliknya yang Welcome untuk dikunjungi,
agar mudah mengklaim bahwa itu adalah kepunyaannya. ironisnya semua diambil
dengan terang-terangan, namun pemerintah kita seakan-akan tidak tahu menahu dan
tidak mau tahu akan persoalan itu, belum lagi persoalan yang berskala regional,
tingkat kabupaten/kota hingga permasalahan terkecil sekalipun yang semakin hari
semakin menumpuk tampa urung penyelesaiannya
Mahasiswa yang dikenal
sebagai peran aspirator rakyat masih sibuk bergelut dalam ruang lingkup
internalnya masing-masing, terperangkap dalam tempurung dengan menjalankan
aktifitas yang kadang tidak produktif serta bersifat pragmatis, apalagi
diantara mereka asyik dalam membuat kesibukan kompetisi sesama kawan sendiri
yang semestinya dijalani dengan rasio, namun realitasnya hanya aksi yang tidak
mencerminkan sikap sebagai seorang mahasiswa, sehingga bukanlah suatu
keniscayaan jika citra mahasiswa sebagai insan intelektual yang dikenal ramah
akan ketamahannya, serta tegas dalam kritiknya sebagai harimau forum,
tergantikan dengan kecenderungan yang baru, sebagai elit beringasan yang kini
tak bertaring lagi. Semangat budaya kita sebut saja kesatuan gerakan yang
dikenal sebagai semangat gotong royong kini tidak terlihat lagi sebagai watak
bangsa, justru berubah menjadi bangsa yang suka tawuran dan gonto-gontokan. Intinya
spirit kaum intelaktual kini terengah-engah dalam daya saing yang rendah akan
kepercayaan diri, dengan kekayaan modal sosial yang dulu mereka dapatkan kini
mulai redup bersamaan miskinnya harga diri. Ujung-ujungnya ini menjadi sebagai
cermin pemerintah dan masyarakat luas sehingga gaung mahasiswa mulai lenyap dan
tidak memiliki lagi nilai tawar lebih.
Olehnya itu untuk
meretas paradigma tersebut, dalam rangka menjawab hiruk pikuk persoalan yang
tengah dijalani saat ini, mahasiswa sebagai bagian besar eksponen perubahan
memiliki kewajiban, untuk menarik kembali benang merah sejarah bangsa sebagai langkah
evaluasi strategi gerakan yang telah mereka lakukan, sehingga mampu merumuskan
sesuatu yang baru dalam mencapai titik sasaran yang tepat. Karna mahasiswa adalah
tulang punggung sekaligus penentu kelangsungan kehidupan bangsa, yang tentunya
memiliki tanggung jawab besar dalam membangun bangsa ini.
Mahasiswa sebagai salah
satu aktor insan intelektual yang tetap berada pada fase aktualisasi, tidak
lagi berbicara identitas warna maupun suku bahkan ideologipun sekaligus, karna
itu semua sudah tuntas dibahas oleh para pendahulu kita. Justru inilah saatnya dimana
kita saling mengengam tangan dan merapatkan barisan, tanpa melihat dari sisi
warna (perguruan tinggi, Fakultas, & Jurusan) etnis dan budaya, bersama-sama
memasuki fase usia kematangan kita, baik dalam matang berfikir, matang bersikap,
terlebih lagi matang dalam mengambil tindakan atau aksi, baik itu berskala
nasional, regional, kabupaten/kota, kampus, hingga persoalan sekecil apapun
itu.
Sebagai sebuah kata
penutup, Saya selaku
Aktivis Mahasiswa bangga dengan
kehadiran beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) diantaranya UKM PERS PENA
, dan UKM. FOKUS (Fotografi Kampus) diharapkan menjadi salah satu media Publik
ajang silaturrahim dalam gagasan ide antara mahasiswa dalam mewujudkan
massivitas gerakan, sekaligus media informasi sebagai referensi dalam mengidentifikasi,
menginfentarisir dan sebagai salah satu titik acuan langkah taktis strategi
gerakan mahasiswa.
Billahi
Fii Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar