Berawal
dari niat ku rela meninggalkan jejak petualangan ku di desa yang di penuhi
pepohonan dan gunung, demi mengaduh ilmu dan iman yang masih runtuh.
Di
kota tempaku mengaduh ilmu ini, ada dua sahabat yang tidak pernah lepas dan
meninggalkanku, ia adalah kelaparan dan penderitaan, walau ia selalu membuatku
lemah dan sakit, tetapi ia tetap ku terima kehadirannya di sejarah hidupku,
sebab ia bukanlah penghalang untuk mengejar harapan yang masih ada dalam
mimpiku.
Kehadiran
ku di kota ini, di ibaratkan seekor kucing yang ingin menncari sesuap nasi
untuk anak-anaknya.
Aku
hadir di kota ini bukan untuk menyiakan roda waktu yang selalu berjalan, akan
tetapi aku ingin meninggalkan tempat ini dengan segudang ilmu, dengan segudang
ilmu dan iman, untuk mewujudkan harapan dan impian yang masih ada dalam mimpiku
yang di sambut dengan senyuman dan do’a dari yang menghadirkanku di dunia yang
penuh dengan derama in.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar