Selasa, 17 Juli 2012

Harapan Di Balik Harapan

Setiap awal tahun, akan selalu di barengi dengan sebuah harapan baru. Harapan dengan adanya peningkatan dari tahun kemarin. Di Koran FAJAR misalnya, mimbar demokrasi yang di sediakan pihak redaksi FAJAR yang berda pada halaman Opini, yang mana mimbar tersebut memberikan kesempatan untuk para pembaca untuk melontarkan ide, gagasan, masukan, ataupun kritikan yang membangun.
Pada tanggal 26 sampai dengan 31 desember 2011 lalu. Redaksi FAJAR, mengangkat tema “Harapan Baru Di Tahun Baru”. dan tidak main-m,ain. Tema yang menjadi topik penulisan yang berlangsung selama enam kali penerbitan. Menghasilkan banyaknya harapan-harapan dari kalangan pembaca Koran FAJAR.
Seperti misalnya Romi Rukmana, dari Palopo, berharap akan adanya kedamaian di Indonesia dan tidak ada lagi koruptor baru yang muncul (Opini Fajar, Rabu, 28 Desember 2011). Sebuah harapan yang sungguh jauh dari kata main-main. Sebuah harapan yang hampir mustahil akan terlaksana.
Bagaimana tidak, korupsi sudah menjadi kejahatan mendarah daging dari pelakunya. Bahkan UU No 30 Tahun 2002 meletakkan korupsi sebagai extra ordinary crime (kejahatan luar biasa). Sama dan setaraf dengan terorisme (Opini Fajar, H. Abustan, praktisi hukum, 30 desember 2011). Sebuah kejahatan yang sungguh luar biasa. Sehingga perlu penanganan yang sangat luar biasa juga. Mari kita tengok cina, vonis mati sudah menjadi harga mati bagi para koruptor.
Harapan lain di hadirkan Andi Savina, seorang mahasiswi STIEM YPUP. Yaitu sebuah harapan akan terbukanya lapangan pekerjaan. Dengan harapan di balik harapan, bila lapangan pekerjaan terbuka luas. Maka tidak ada lagi kerusuhan dimana-mana. Dan pada dasarnya itulah yang menjadi harapan bersama rakyat Indonesia tentunya.
Refleksi Tahun Baru
Sangat wajar. Bila tahun baru selalu di barengi dengan sebuah harapan baru. meski pada dasarnya harapan serupa sudah menjadi sebuah harapan pada tahun baru kemarin. Dan jika itu benar berarti harapan tersebut belum bisa terealisasikan. Karena masih menjadi sebuah pekerjaan rumah pada tahun berikutnya.
Lantas apa yang harus di lakukan? Haruskah kita berdiam diri dan mengisap jempol saja. Tentu tidak!. Kita harus merealisasikan harapan tersebut. Kita mesti mau menjadikan harapan itu manjadi sebuah kenyataan. Bukan hanya menjadi mimpi dikala terjaga. Dan itu masti di mulai pada diri pribadi.
Jika kita berkata mau. Seperti apa wujud dari mau itu? Salah seorang dosen STAI DDI AD Mangkoso pernah mengatakan bahwa mau itu adalah Mesti Ada Usaha. Sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa yang mengatakan mau tapi tidak memiliki sebuah usaha maka itu sama saja dengan nihil.
Tindakan korupsi misalnya. Di tengah-tengah kita barangkali ada sebuah tindakan korupsi (meski masih dalam skala kecil-kecilan) kita malah membiarkannya berbunga dan menebarkan harum kesengsaraan. Jika memang ada yang demikian. Mana refleksi dari sebuah harapan besar tadi?. Yang mendambakan Indonesia yang bersih dan terbebas dari korupsi. Itukan sama halnya mengosongkan mimpi. Bila memang sudah cukup bukti. Mari kita bertindak. Jadilah racun bagi tikus-tikus busuk yang licik itu.
Ada sekian banyak harapan yang menjadi batu tumpuan kiat masing-masing. Yang menjadi tujuan besar kedepannya. Di atas merupakan harapan besar masyarakat Indonesia. Dan perlu di pahami bahwa. Tidak hanya di pundak aparatur terkait setiap urusan di bebankan. Kitapun mesti turut andil dan membantu
Membuka Catatan Lama.
Lembaran baru 2012 memang telah terbuka. Menutup lembaran demi lembaran tahun 2011. Namun perlu di pahami bahwa, walaupun demikian. Semestinya catatan-catatan selama di tahun 2011 dapat menjadi acuan tindakan di tahun 2012. Tidak hanya menjadi pajangan di perpustakaan masa.
Kita mesti tahu, apa yang telah di lakukan dan sudah maksimalkah itu di tahun 2011 kemarin. 2011 mesti menjadi bahan evaluasi baik untuk diri apalagi untuk sesama. Misalnya, bagaimana teknik belajarnya kita sebagai mahasiswa? Sudah maksimalkah itu? Kalau belum mari kita maksimalkan. Dan apabila sudah maksimal, mari kita tampilkan kiat-kiat yang baru yang mampu memberikan nilai plus plus dan plus untuk kita.
Mengutip sambutan ayahanda Rektor Umpar, pada saat penerbitan perdana Tabloid Sahabat Pena oleh UKM Pers PENA UMPAR yang mengatakan bahwa dosen hanya bisa memberikan ilmu sekitar 20% saja dan 80%nya mesti di cari sendiri oleh mahasiswa. Sehingga dapat di simpulkan bahwa keberhasilan mahasiwa tidaklah terlalu di pengaruhi oleh proses belajar mengajar di kampus. Tapi bagaimana mahasiswa mengembangkan prosesitu menjadi sebuah kajian besar. Setidaknya untuk diri sendiri. Dan Pimpinan serta dosenpun mesti memberikan dukungan penuh dengan kegiatan mahasiswa dalam pengembangan dirinya itu. Agar nantinya alumnus dari UMPAR mampu memberikan nilai positif di mata masyarakat.

Tidak ada komentar:

ALLAZI ALLAMA BILKALAM ALLAMAL INSANA MALAM YA'LAM