Senin, 09 Juli 2012

Belajar Dari Semut

 “Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh sulaiman dan bala tentaranya,sedangkan mereka tidak menyadari.” (An-Naml [27]:18)
Ayat diatas menerangkan,semut memiliki seorang pemimpin yang punya kepedulian sosial tinggi untuk menyelamatkan rakyatnya  dari bahaya. Ia tidak hanya memikirkan dirinya ketika ada bahaya mendekaati koloninya.
Ayat tersebut juga menjelaskan , hewan ini memilki ketajaman indera dan sikapnya yang sangat hati-hati, terutama terhadap bahaya. Tidak hanya itu etos kerjanya juga sangat tinggi. Dengan
kesabaran dan kekompakannya, mereka bisa membangun sarang yang besar dan kuat sebagai tempat perlindungan dari mara bahaya. Ini mereka lakukan sepanjang hari dan malam, kecuali malam-malam gelap saat bulan tidak memancarkan sinarnya.
Solidaritas yang terbangun dalam koloni ini juga tinggi. Bila salah satu dari menemukan makanan, ia akan minta tolong teman-temannya membawa makanan tersebut kesarangnya. Bahkan menurut Ibnul Qayyim dlam kitabnya Syi fa’ul Alil Masa’il al Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wa Ta’lil,ia memanggil teman-temanya hingga tiga kali. Jumlah semut yang berkumpul bergantung kepada besar dan kualitas makanan tersebut.bila makanan itu berupa biji-bijian ,mereka akan memecah belah .Muttawalli Sya’rawi dalam tafsirnya ,menulis ,”merupkan suatu keajaiban dimana anda akan menemukan dalam sarang semut beberapa biji-bijian yang telah terbelah-belah pada agar tidak tumbuh. Para ilmuwan menemukan satu biji yang dibelah empat yaitu biji ketumbar. Kalau biji ketumbar ini dibelah dua, maka setiap bagian masih bisa tumbuh, akan tetapi semut semut tersebut membelah biji ketumbar menjadi empat bagian agar tidak bisa tumbuh. Karena jika biji tersebut tumbuh, ia akan menutup sarang meraka. Oleh sebab itulah, semut menyimpan biji-bijian sampai mereka bisa memakannya.pada saat musim dingin tiba. Maha Suci Allah yang telah memberikan pengetahuan ini pada semut-semut tersebut,”(Tafsir Sya’rawi tentang surat An-Naml[27]18)
Bila makanan sudah didapat, mereka akan membaginya secara adil sesuai dengan fungsinya masing-masing. Menariknya, mereka bekerja secara sistematis dalam menyelesaikan masalah. Dengan kemurahan hati, mereka tidak pernah berebut dan merasa paling berhak disbanding yang lainnya.
Ketika Ibnu Taimiyah mendapat cerita dari Ibnul Qayyim mengenai kehidupan semut, ia berkata, “sesungguhnya semut diciptakan Allah dengan watak jujur dan mencelah kebohongan.” (Kitab Syifa’ul ‘alil)
Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, koloni hewan juga merupakan umat yang selalu bertasbih kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “ada semut yang menggigit seorang Nabi dari Nabi-nabi terdahulu, lalu Nabi itu memerintahkan agar membakar  sarang-sarang semut itu. Maka kemudian Allah mewahyukan kepadanya, firmannya: “Hanya karena gigitan seekor semut, maka kamu telah membakar suatu kaum yanh bertasbih”.(Riwayat Bukhari)
Jujur merupakan salah satu sifat seorang kesatria atau pahlawan dan tidak salahnya kita belajar dari kejujuran semut.
Sumber: suara hidayatullah_juni 2011

Tidak ada komentar:

ALLAZI ALLAMA BILKALAM ALLAMAL INSANA MALAM YA'LAM