Bagaimana tidak. Mahasiswa sudah
tidak lagi mencerminkan dirinya sebagai Control
of Social, Agen of Change dan Power of Balance. Ketiga fungsi mahasiswa
tadi. Sudah tidak mendarah daging lagi di setiap nadi mahasiswa. Padahal dalam
sejarah sejarah silam. Mahasiswa adalah pelopor runtuhnya Zaman Orde Baru dan
tergantikan dengan Orde Reformasi.
Pertanyaannya kemudian, apakah
mahasiswa mampu melakukan hal yang serupa? Atau hanya menjadi buaian sejarah
yang melelapkan pergerakan mahasiswa, sehingga kontrol terhadap kondisi sosial
yang sudah carut marut. Baik di pemerintahan bahkan mungkin keadaan sekitarnya,
hanya sebagian kecil yang memperhatikan.
Mungkin itu semua merupakan imbas
dari kurang aktifnya mahasiswa dalam kajian-kajian sosial. Buku bukan lagi
kawan setia. Mungkin hanya menjadi pajangan rumah. Dan ada yang membeli buku
bukan berdasarkan pergerakan mahasiswa. Tapi hanya membeli buku yang menjadi
tuntutan akademik saja. Belum lagi tidak up datenya mahasiswa mengikuti pemberitaan media-media massa. Sehingga apa yang mau di kontrol sedangkan situasi sekarang sudah tidak lagi di ketahui?. Apa yang mau di ubah jika masalah social yang ada tidak lagi menjadi bahan diskusi?. Dan apa yang mau di seimbangkan bila tidak ada isu yang menjadi titik acuan pergerakan. Sehingga tidak ada yang bisa di pertanyakan. Apa? Kenapa? Dan bagaimana?
tuntutan akademik saja. Belum lagi tidak up datenya mahasiswa mengikuti pemberitaan media-media massa. Sehingga apa yang mau di kontrol sedangkan situasi sekarang sudah tidak lagi di ketahui?. Apa yang mau di ubah jika masalah social yang ada tidak lagi menjadi bahan diskusi?. Dan apa yang mau di seimbangkan bila tidak ada isu yang menjadi titik acuan pergerakan. Sehingga tidak ada yang bisa di pertanyakan. Apa? Kenapa? Dan bagaimana?
Bahkan cenderung -maaf- hanya bergelut dalam dunia yang
tidak seharusnya menjadi cirri dari mahasiswa. Banyak yang menjadikan miras
sebagai budayanya, bentrok kecil sesama
mahasiswa yang seharusnya bisa di redam dengan Tudang Sipulung malah membesar. Dan itu semua barangkali tidak bisa
terlepas dari tendensi kelompok dan politik dari mahasiswa sendiri.
Bung Karno dalam slogannya berkata
“Berikan aku sepuluh pemuda maka aku akan mengguncang dunia”. Melirik keadaan
pemuda sekarang ini. Yang mana sepuluh pemuda yang tidak lagi mampu memberikan
guncangan kepada dunia. Maka barang kali lebih baik sepuluh pemuda itu di
bentuk menjadi Boyband saja. Untuk menyesuaikan diri dari perkembangan zaman.
Dengan cirri khas Foot, Fun, And vasion. (001)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar