Selasa, 17 Juli 2012

Sepuluh Orang Untuk Boyband (Refleksi Diskusi Penulis Dengan Muh. Ramdhan Dan Joy Sem)

Melirik fenomena kepemudaan dalam ruang gerak mahasiswa. Mungkin sudah bisa di katakan bahwa nilai gerak itu sudah berkurang jika tidak mau di katakan pergerakan itu sudah nyaris putus bahkan hilang.
Bagaimana tidak. Mahasiswa sudah tidak lagi mencerminkan dirinya sebagai Control of Social, Agen of Change dan Power of Balance. Ketiga fungsi mahasiswa tadi. Sudah tidak mendarah daging lagi di setiap nadi mahasiswa. Padahal dalam sejarah sejarah silam. Mahasiswa adalah pelopor runtuhnya Zaman Orde Baru dan tergantikan dengan Orde Reformasi.
Pertanyaannya kemudian, apakah mahasiswa mampu melakukan hal yang serupa? Atau hanya menjadi buaian sejarah yang melelapkan pergerakan mahasiswa, sehingga kontrol terhadap kondisi sosial yang sudah carut marut. Baik di pemerintahan bahkan mungkin keadaan sekitarnya, hanya sebagian kecil yang  memperhatikan.
Mungkin itu semua merupakan imbas dari kurang aktifnya mahasiswa dalam kajian-kajian sosial. Buku bukan lagi kawan setia. Mungkin hanya menjadi pajangan rumah. Dan ada yang membeli buku bukan berdasarkan pergerakan mahasiswa. Tapi hanya membeli buku yang menjadi
tuntutan akademik saja. Belum lagi  tidak up datenya mahasiswa mengikuti pemberitaan media-media massa. Sehingga apa yang mau di kontrol sedangkan situasi sekarang sudah tidak lagi di ketahui?. Apa yang mau di ubah jika masalah social yang ada tidak lagi menjadi bahan diskusi?. Dan apa yang mau di seimbangkan bila tidak ada isu yang menjadi titik acuan pergerakan. Sehingga tidak ada yang bisa di pertanyakan. Apa? Kenapa? Dan bagaimana?
Bahkan cenderung -maaf- hanya bergelut dalam dunia yang tidak seharusnya menjadi cirri dari mahasiswa. Banyak yang menjadikan miras sebagai budayanya,  bentrok kecil sesama mahasiswa yang seharusnya bisa di redam dengan Tudang Sipulung malah membesar. Dan itu semua barangkali tidak bisa terlepas dari tendensi kelompok dan politik dari mahasiswa sendiri.
Bung Karno dalam slogannya berkata “Berikan aku sepuluh pemuda maka aku akan mengguncang dunia”. Melirik keadaan pemuda sekarang ini. Yang mana sepuluh pemuda yang tidak lagi mampu memberikan guncangan kepada dunia. Maka barang kali lebih baik sepuluh pemuda itu di bentuk menjadi Boyband saja. Untuk menyesuaikan diri dari perkembangan zaman. Dengan cirri khas Foot, Fun, And vasion. (001)

Tidak ada komentar:

ALLAZI ALLAMA BILKALAM ALLAMAL INSANA MALAM YA'LAM