Balada sang penjual jalankote di
sekitaran UMPAR
Surianto seorang penjual gorengan
jalankote di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR). Anak
kedua dari empat bersaudara ini lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Nurmin
menjual jalakotenya dari jam 7 pagi hingga jam 9 pagi dan terkadang jualan yang
sudah habis dalam jangka 2 jam ini kembali menjual di siang hari hingga jam 5
sore. Anak yang sering di panggil Anto ini terkadang juga mulai mambawa jajanan
gorenganya sepulang sekolah, jajanan di bawanya biasa berupa jalankote, bakwan
dan panada.
200 Rupiah per biji merupakan hasil
yang dia peroleh dari jualan gorengan 1.000 Rupiah. Total yang dihasilkan dalam
sehari oleh anak yang lahir pada tanggal 8 Agustus 1998 ini mencapai 34.000 Rupiah,
itupun kalau gorengannya habis. Hasil jualan biasanya dia jajankan 4.000 Rupiah
dan sisanya dia tabung demi kelancaran masa depan pendidikanya. Siswa Unggulan SMP
12 kelas 1 ini rela menjual walau panas terik matahari
yang menyengat maupun hujan yang deras mengguyur tubuhnya. Dengan menenteng keranjang tiap hari yang berisi gorengan 80 biji dari alamat rumahnya di jalan Sosial hingga ke areal kampus berkisaran jarak 1 km.
yang menyengat maupun hujan yang deras mengguyur tubuhnya. Dengan menenteng keranjang tiap hari yang berisi gorengan 80 biji dari alamat rumahnya di jalan Sosial hingga ke areal kampus berkisaran jarak 1 km.
Erni tetangganya si pembuat kue ini
mempekerjakan Anto yang ayahnya sudah berpulang kerahmatullah ini dari kelas 6
SD hingga sekarang. Kini Anto dapat menghidupi dirinya dan sebagian adiknya
serta membantu perawatan ibunya yang telah di operasi akibat pembekakan dibawah
telinganya. Anto pernah menghilangkan uang hasil jualannya namun Anto yang
sikapnya ramah dan baik tidak di marahi oleh Erni yang kebetulan juga ada
hubungan keluarga.
Tiap hari Anto melihat mahasiswa yang
berkeliaran dikampus, dia juga ingin merasakan menjadi mahasiswa seperti
pelanggangnya di kampus biru UMPAR. “Senanganya bisa melihat mahasiswa yang
menentenga tas, tidak sabar ka rasakan jadi mahasiswa” ungkapan Anto yang penuh
harapan.
Cucu dari serorang nenek yang bernama
Sinta ini juga menghabiskan sebagian waktunya dengan bermain bola bersama
mahasiswa di lapangan belakan setelah jualannya habis cicipi oleh mahasiswa.
Hobi bermain bola dan jago game bola berharap membawa cita-citanya menjadi
pemain bola yang hebat. Anto pernah di marahi oleh ibunya karena sempat
berkelahi dengan adiknya, perkelahian yang emosi sesaat ini tidak mengurangi
rasa sayang kepada adiknya Hasnur yang saat ini belum memasuki wilayah
pendidikan.
Dari perjalan Anto menjual kue sangat
berharap sekolahnya dapat terus dia jalani dan mampu membahagiakan orang tuanya
yang kini sedang sakit. Anto juga berharap adik-adiknya dapat menempuh
cita-citanya hingga tercapai. Semoga yang dia harapkan dapat tercapai dan tetap
tersenyum menjalani hidupnya yang di hiasi dengan keranjang jalan kote dan
botol yang berisikan cairan Lombok di tiap harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar